Senin, 09 Juni 2008

Gereja dan Tantangan Pemuda dalam konteks Indonesia

Gereja dan Tantangan Pemuda dalam konteks Indonesia




Tulisan ini telah kami bacakan di pertemuan NHKBP di Tarutung.


Tantangan pemuda dalam konteks Indonesia.


Dalam era globalisasi ini konteks lokal, nasional dan internasional sudah “interrelated” sehingga jika kita tidak mengenal siapa kita (identitas) yang berhubungan dengan keber”ada”an dan konteks, maka kita akan terputar oleh arus yang dikuasai oleh multi-cooperation, yang tidak memuja Allah tapi mammon. Dampaknya, konteks global sekarang adalah mengabaikan nilai-nilai kemanusiaan dan keutuhan interrelationship dari semua ciptaan. Sehingga yang nampak adalah ketidakadilan.

Perbedaan dianggap sebagai ancaman bukan kekayaan yang saling menopang. Hal ini disebabkan karena yang memiliki, yang berkuasa, yang lebih pintar menindas/ memanipulasi yang tidak/ kurang memiliki, yang tidak berkuasa (powerless) dan yang bodoh. Saling berbagi (the idea of sharing) tidak dikenal dalam era ini. Prinsip Doa Bapa Kami dan kotbah di Bukit yang diajarkan oleh Yesus tidak berlaku di era perdagangan bebas dan global market ini. Manusia kini, amat cepat terserap oleh pola pikir dan tindak yang ditawarkan oleh global market ini, karena mereka menguasai dunia informasi. Termasuk pemuda gereja.

Konsumerisme, hedonisme, pragmatisme, kebudayaan instant (coffee three in one) mengarahkan kita menjadi individualisme yang tidak sesuai dengan pola local (kebatakan- hula-hula, anakboru dll) dan nasional (gotong royong, musyawarah mufakat) yang berorientasi kepada kekuasaan (power) dan uang (money). Semua orang menuntut dilayani bukan melayani. Yang tinggi direndahkan dan yang rendah ditinggikan tidak dikenal pemuda kini.

Ekonomi dan politik adalah berkaitan dan sangat berhubungan dengan keberadaan agama. Keterkaitan ketiga aspek ini dan yang dimana aspek agama adalah yang the most sensitive, maka jika gereja belum mengertikan Pancasila sebagai civil religion (Civil religion stands somewhat above folk religion in its social and political status, since by definition it suffuses an entire society, or at least a segment of a society; and is often practised by leaders within that society. On the other hand, it is somewhat less than an establishment of religion, since established churches have official clergy and a relatively fixed and formal relationship with the government that establishes them. Civil religion is usually practiced by political leaders who are lay people and whose leadership is not specifically spiritual)

muncullah seperti yang kita kenal di tanah air tragedi Ambon dan Poso, juga yang pemerintah RI dan media sebut “teroris.” Ini adalah penampakan umum sebagai dampak negatif dari pluralisme kita (kepercayaan/iman dan suku). Penampakan khusus adalah masalah intra-church. Maraknya gerakan “haleluyah“ (bisa dimasukkan Pentakosta dan Karismatik) jangan dengan cepat dimengerti sebagai buah dari pekerjaan roh kudus. Ini adalah buah dari tatanan global market (Bandingkan Iman Santoso, “Misi Gereja Dalam Era Pluralisme Budaya Dan Teknologi Canggih,” dalam Masihkah Benih Tersimpan, penyunting F. Suleeman, Jakarta: BPK, 216-7).

Berdasarkan pemaparan di atas, bisa dikatakan bahwa sebagai pemuda yang hidup di konteks kini tidak gampang. Karena tidak hanya complex tapi juga complicated, jika kita tidak mempunyai identitas yang jelas tentang siapa dan dimana kita.

Pengangguran karena putus sekolah dan tidak dapat kerja adalah dampak dari era yang high competition ini. Konsep keluarga juga sudah bergeser dikarenakan komoditi ekspor Indonesia yang menghasilan devisa yang tinggi buat negara adalah TKI dan TKW. Pemuda banyak yang jebolan keluarga yang kita sebut “broken home.“ Banyak yang melarikan diri (Eka Dharmaputra menuliskan bahwa dalam menghadapi status quo dan kemapanan disekitarnya, generasi muda a. melarikan diri,b. Menghanyutkan diri dan c. Reaktif dan agresif, lihat Pergulatan Kehadiran Kristen di Indonesia, Jakarta: BPK, 570.) daripada stress ke narkoba, miras, berjudi, atau menjadi aktif di kegiatan-kegiatan yang positif seperti GMKI, pemuda gereja HKBP atau Persekutuan-persekutuan doa yang menjamur kini.

Dalam era sejuta pilihan ini, pemuda harus mempunyai kemampuan untuk memilih. Kemampuan in haruslah dilandaskan di bekal pengetahuan yang didapatkan dari bangku sekolah dan pendidikan ketrampilan sehingga memampukannya berpikir secara global dan bertindak lokal, serta keteguhan iman. Perpaduan kedua ini jelas berhubungan dengan pemunculan sikap yang kerja keras, inovatif, kreatif dan jujur.



Gereja, keberadaan dan fungsinya.


Gereja sebagai persekutuan orang-orang yang terpanggil,walaupun tidak ada persetujuan para ahli tentang apakah term ekklesia berasal dari idea ‘to call out’ (memanggil keluar) sebagai hasil dari kombinasi dua-kata ek-kaleo (Ekklesia adalah secular word dalam bahasa Yunani,biasanya berarti a gathering or assembly. Tapi orang Kristen mula-mula yang adalah berbahasa Yunani mengerti diri mereka sebagai ekklesia/or ekklesia tou theou berdasarkan pengertian dari qahal Yahweh dalamPL, lihat Robert Nelson, The Realm of Redemption. Studies in the Doctrine of the Nature of the Church in Contemporary Protestant Theology, 5-9. Lihat juga Richardson yang mengutip pikiran K. L Schmidt’s di hal. 285-6. James Barr tidak setuju untuk mengatakan bahwa ekklesia dapat merepresentasikan pengertian qahal Yahweh, see Barr, 119-29. Lihat juga penjelasan Kittel tentang bagaimana sulitnya untuk mendapatkan the real meaning of the term berdasarkan etymologynya, apalagi arti dari kata selalu berkembang menjadi jika tidak semakin luas ya semakin sempit. Lihat Kittel, Bible Key Words, 57-61)

Namun berdasarkan motif dari pemanggilan Allah (Band. Pemanggilan Abraham di Kej 12:1-4; Yes 42:6) yang bertujuan agar orang yang terpanggil harus hidup berdasarkan ajaran Allah (Eph 1:18; 4:1,4; 1 Tes 2:12; 1 Tim 6:12; Gal 5:8; 1 Pet 2:21); hidup dalam kesucian (1 Tes 4:7; 1 Pet 1:15; menjadi saksi Allah (1 Pet 2:9); menjadi berkat bagi orang lain (1 Pet 3:9); harus selalu belajar semakin mengenal Allah agar kita dapat bertumbuh kokoh dan dewasa dalam pemanggilan dan pilihan kita (2 Pet 1:3,10); orang yang dipanggil adalah bebas (hubungkan in dengan idea lahir kembali ) dan sekarang hanya menjadi kepunyaan Allah semata (1 Kor 7:22; Gal 5:13; Rom 1:6); orang orang yang terpanggil haruslah hidup setia kepadaAllah sebagaimana Allah adalah setia (Ibr 3:1; Wah 17:14; 1 Tes 5:24], dan ide dari “memanggil ke luar” berarti melakukan pelayanan ke Allah dan manusia. Menjadi gereja berarti aktif dalam ibadah kepada Allah dan mewujudkan panggilan itu (mnurut Nelson, orang Kristen mula-mula yang menyebut dirinya sebagai as k’ nishta melakukan kegiatan in.) sehingga aspek dari koinonia, diakonia, dan menjadi saksi ke dunia (marturia) nyata ada. Melalui ketiga aspek inilah gereja berperan dalam mengarahkan dan mempersiapkan pemuda dalam menghadapi tantangan kini dan di sini.



Pemuda sebagai bagian dari persekutuan gereja


Pemuda adalah bagian dari koinonia, sehingga ia masuk dalam persekutuan kategorial. Dalam persekutuan in mereka di arahkan melalui PA, kebaktian pemuda, katekisasi dan percakapan pastoral. Melalui program diakonia gereja, pemuda ditingkatkan daya saingnya sehingga mampu berkompetisi di level local, nasional dan internasional (peningkatan SDM). Juga Diakonia memprogramkan penciptaan lapangan kerja buat mereka.

Peran gereja dalam mempersiapkan dan membantu pemuda dalam menghadapi tantangan ini haruslah dilandaskan atas aspek agape (lihat: Mat 22:34-40; Mark 12:28-34; Luk 6:27-36; 10:25-28; 1 Kor 13; bandingkan 1 Kor 4:6-21; Rom 12:9-21; 13:8-10; 1 Pet 3:8-12; 4:8; 1 Jn 4:7-21; Yoh 15:9-17; Yoh 17: 20-26.) dan idea dari kesatuan (oneness) [lihat Ep 2: 11-22; 4:1-16; 1 Kor 12; band Rom 12:1-8; Fil 2:1-11; 1 Pet 3:8-12; Yoh 17:20-26; Kis 4:32-37) yang adalah sangat penting dalam mengerti akan apa itu gereja. Sehingga ada pernyataan bahwa dalam gereja, jemaat haruslah saling menopang dan menolong (Mat 6: 1-4; 2 Kor 8-10; Gal 6: 1-10; 1 Pet 4:9; 3 Jn 1:5-12; Kis 2:41-47), haruslah saling mengajar dan mengingatkan(1 Tes 5:12-22; 2 Tes 2:13-3: 15; lihat isi kitab Timotius; Ibr 12: 1-16; kitab Yakobus; 1 Pet 5:1-11; Jude 1:17-22; Mat 18:15-20); saling mengerti satu sama lain (Luk 6:37-42; Rom 14-15:13), saling mengampuni (Mat 18:21-35; 2 Kor 2:5-11).

Maka adalah mandat dan tugas gereja agar pemuda mampu menjadi saksi di dunia, menjadi garam (Mat 3:13) dan terang (Mat 5:14). Sehingga generasi muda yang kini mayoritas mengidentitaskan dirinya berdasarkan what they have bergeser menjadi what they are. Di sini karakter dan integritas yang didasarkan iman berperan menentukan. Generasi muda kembali menjadi dirinya yang idealis, dinamis, berpengharapan, penuh semangat dan cita-cita. Mereka berani tampil beda tanpa takut untuk diasingkan seperti Yesus. Sehingga pemuda, baca juga gereja, tidak enggan untuk mengambil bagian di dalam civil society di dalam kehidupan berbangsa dan bertanah air di Indonesia. Dan Pemuda dan Gereja hanya bisa berperan jika ia a. tidak sama dengan Dunia dan b. mempunyai pandangan dan konsepnya yang berdasarkan visi misi perwujudan kerajaan Allah di dunia.













Kabanjahe, Pdt. Mindawati Perangin angin Ph.D

3 komentar:

Anonim mengatakan...

Mudah-mudahan tidak hanya pemuda HKBP yang menyimak artikel ini buk, tapi juga permata GBKP. Terima kasih buk

Sitepu mengatakan...

Saya pernah menulis :

Dari altar, kita bawa semangat hidup harian menuju Gereja dan Masyarakat masa depan.

Tidak perlu diragukan apa yang diupayakan oleh Keluarga, Paguyuban serta Gereja dalam mendampingi iman anak dan remaja selama ini. Selalu ada ide dan pelbagai kegiatan yang sebetulnya cukup untuk menghantar anak dan remaja kepada kepenuhan hidup sebagai orang-orang Kristen. Gema Pekan Keluarga GBKP pun menyadarkan keluarga-keluarga dan pengurus Runggun untuk terlibat secara penuh dalam pembinaan kerohanian. Namun ternyata masih diperlukan juga terobosan-terobosan dalam merencanakan kegiatan kerohanian serta pembinaan. Simak beberapa permasalahan berikut, yang kemudian membutuhkan penanganan nyata dan khusus
Seorang pemudi, tingkat 1, baru saja terpilih sebagai pengurus PMK (Persekutuan Mahasiswa Kristen) sebagai sekretaris. Dia sangat bangga dan merasa diterima oleh teman-temannya. Namun dia masih merasa asing dan minder juga dengan beberapa teman, apalagi kalau melihat banyak teman-teman sebaya sudah menerima roti perjamuan dalam Kebaktian Perjamuan Kudus. Perasaan minder dan malu utamanya sangat terasa pada saat menjelang Paskah. Apa pasal? Dia belum merasakan “di sidi/ di ngawanken” karena pada waktu SMP/SMA agak bandel, gak pernah ikut kegiatan di Gereja, juga gak pernah mau ketika diajak saat masa remajanya dulu. Dia juga tidak tahu kalau masa SMA adalah saat untuk dingawanken/disidi dan perlu persiapan beberapa bulan untuk pelajaran. Apalagi dulu SD-nya di SD negeri, juga SMP Negeri dan SMA negeri (jangan jadikan alasan ! SMA Negeri dan SMA Kristen/Katolik sama saja !). Sekarangpun Perguruan Tinggi Negeri, namun sedikit lumayan, teman-teman dekatnya aktifis Gereja, menyadarkan dan mengajaknya aktif dalam kegiatan Gereja, terlibat lebih penuh, apalagi sebagai pengurus PMK dan anggota Permata. Tapi dia tetap belum di sidi/dingawanken !
Siapa bertanggungjawab untuk menggerakkan anak-remaja terlibat dalam kehidupan menggereja? Orangtua tentu yang paling bertanggungjawab untuk menanamkan nilai-nilai iman Kristen serta mewariskan tradisi keKristenan di dalam keluarga. Namun kalau orangtua sudah mengajak, sementara anak-anak sendiri tidak mau terlibat, bagaimana? Atau orangtua tidak aktif atau kurang terlibat dalam kehidupan menggereja, hanya ibu saja yang ikut kegiatan lingkungan. Bapak sudah merasa cukup kalau sudah bekerja dan memenuhi kebutuhan pokok keluarga tanpa memberi perhatian pada hidup rohani anak-anak? Anak tidak mau terlibat dalam kegiatan lingkungan maupun Gereja (misal Kebaktian Anak, Kebaktian Remaja, Paskah bersama se-runggun, Natal bersama se-klasis misalnya) bisa dengan aneka alasan, misalnya tidak ada teman sebaya, jarak cukup jauh dan tidak ada yang mengantar, merasa malu karena tidak nge-trend, dan masih ada seribu satu alasan lainnya.
Kesempatan untuk aktif terlibat dalam kehidupan menggereja ternyata juga dibarengi dengan aneka permasalahan keluarga yang melingkungi. Keceriaan dan kegembiraan dalam paguyuban remaja melalui Kebaktian Anak/Kebaktian Remaja GBKP, seringkali dihambat oleh pelbagai permasalahan keluarga yang sebetulnya terlalu dini menghimpit anak dan remaja kita. Seorang anak puteri, kelas 2 SMP Negeri, ibunya meninggal pada saat dia kelas 5 SD, karena penyakit dalam yang dideritanya. Betapa hatinya merasa terpukul dan sulit menerima kenyataan ini, karena anak ini sering mendengar kasak kusuk tetangga, bahwa ibunya meninggal karena terbebani oleh “kenakalannya” ketika masih kanak-kanak hingga kelas 4 SD. Selama ini anak tersebut ikut aktif dalam kegiatan Remaja yang diselenggarakan di gereja. Dia merasa tidak bisa cerita pada kakaknya yang lulus SMK dan sudah bekerja, apalagi dengan kakak pertamanya yang sudah berkeluarga. Setiap kali mau cerita pengalaman dengan bapaknya, dia tidak kuasa, karena setiap melihat kain istrinya, bapaknya masih juga menangis dan tidak kuasa menahan haru. Padahal sudah dua tahun peristiwa itu berlalu. Sedu-sedan hatinya seringkali tidak bisa diungkapkan kepada teman-temannya, kendati persahabatan di dalam kelompok Remaja Kristen maupun dengan pendamping sebetulnya juga cukup dekat. Keinginan untuk curhat dengan guru agama di sekolah, selalu terbatasi oleh waktu (pelajaran agama pada hari Jumat setelah jam pelajaran sekolah selesai, guru juga tergesa-gesa pulang karena masih harus mengajar di sekolah lain setelah pelajaran selesai). Satu-satunya cara yang selama ini dibuat untuk melepaskan ketegangan hatinya adalah menangis sejadi-jadinya di dalam kamar, seorang diri.
Hal lain lagi, pendaftaran calon Pendeta untuk tahun belakangan ini berkurang. Apa pasal? Bisa saja banyak alasan, Paling tidak seperti sudah ada dua anak yang telah belajar, lulus tahun-tahun yang lalu, namun tidak diterima. Selama sekolah di SMA sudah sering dipantau dan diingatkan kemungkinan untuk masuk Sekolah Pendeta selepas SMA. Ada pendekatan juga untuk beberapa anak yang kemungkinan punya hati untuk masuk Sekolah Pendeta dan sering diajak bicara mengenai jalan panggilan khusus ini. Bahkan anak-anak ini termasuk aktif dalam kegiatan Gereja, Remaja Kristen, KA/KR serta Permata. Dalam pelbagai kesempatan, anak-anak ini cukup aktif menggereja. Orang-tua juga sangat mendukung, termasuk aktifis di lingkungan bahkan juga menjadi pengurus Sektor. Oase dan tempat subur untuk tumbuhnya benih iman sangat terasa untuk orang-orang ini. Namun, ternyata, hati mereka tidak berminat untuk masuk Sekolah Pendeta. Apa yang tidak menarik dari kehidupan di lingkungan ini dan apa yang menghalangi mereka untuk mempunyai hati dan kemungkinan mencoba jalan panggilan khusus ini? Apakah keluarga-keluarga Kristen juga sering menanyakan kepada anak-anaknya mengenai kemungkinan masuk, menjadi Pendeta, bagi anak-anaknya?
Konflik diantara anggota pengurus KA/KR dan Permata (apalagi antara aktifis Runggun dengan aktifis Klasis dan Pusat) bisa dipicu oleh rencana kegiatan yang dianggap masih eksklusif. Bahkan beberapa pengurus sektor/runggun menilai, gaya hidup pengurus Pusat dan Klasis elitis dan eksklusif. Juga ada rasa minder ketika ada beberapa pengurus yang tidak kuliah bahkan belum bekerja sementara aktifis lainnya adalah mahasiswa dan tampak intelek? Orang lain lagi merasa minder manakala sudah kelas 2 SMA namun belum mempunyai pacar. Sementara untuk tingkat anak-remaja seusia SMP, ketegangan antara kegiatan di Gereja (rasa senang kumpul berkegiatan, alasan rapat pengurus atau sekedar ngobrol diantara teman sebaya namun memang terasa asyik) dengan ‘kekangan’ dari orangtua, agar anak-anak cukup banyak di rumah maupun berkegiatan sewajarnya saja, karena masih ada tugas les dan pengayaan di sekolah atau di tempat bimbingan belajar. Hal-hal seperti itu seringkali menimbulkan ketegangan yang tidak mudah diatasi oleh anak dan remaja kita.
Apa yang perlu menjadi program kerja untuk aneka kegiatan anak-remaja, Permata, dengan melihat pelbagai problematik di atas? Bagaimana Gereja bisa menjadi salah satu tempat untuk menjawab pelbagai permasalahan itu dengan fokus yang jitu serta memberi kesempatan sebagai alternatif pilihan kegiatan dan sumbangan kerohanian yang bermakna bagi keluarga-keluarga kita? Tentu kegiatan Gereja dengan pelbagai paguyuban yang ada tidak bisa memenuhi damba setiap orang. Namun baik kiranya, kalau pelbagai rencana kegiatan yang dirancang memang bisa menjawab kebutuhan nyata dari situasi anak-remaja dan kaum muda kita. Pendidik utama dan pendamping utama untuk anak, remaja dan kaum muda adalah keluarga. Namun Gereja tentu tidak akan diam saja manakala melihat ada situasi yang nyata yang dibutuhkan oleh keluarga, anak-remaja dan kaum muda kita. Kegiatan seputar Gereja bisa membantu apa untuk menjembatani pelbagai kebutuhan nyata yang ada ? Kalau lingkungan Gereja bisa menjadi salah satu solusi dari permasalahan keluarga, anak, remaja dan kaum muda, berarti Gereja kita tetap relevan secara internal, juga signifikan secara eksternal. Mari kita cari jawabnya dan kita upayakan agar program kerja yang kita buat menjadi salah satu solusi yang jitu.
Menjadi penting bagi kita, dan siapapun yang dipercaya menjadi pengurus suatu kegiatan atau kelompok, misalnya pengurus Sektor/Runggun/Klasis bahkan Moderamen, Pengurus KA/KR dan Pengurus Permata untuk membuat peta keadaan yang nyata dari orang-orang yang akan kita layani, juga situasi sekitar yang melingkungi. Memetakan permasalahan dan kondisi aktual yang dihadapi baru kemudian menentukan jenis kegiatan yang akan dibuat, menjadi cara bertindak yang perlu diupayakan dari waktu ke waktu.
Beberapa terobosan kegiatan yang memberi kemungkinan untuk dikembangkan lebih lanjut, misalnya: Kegiatan Pengurus dengan pertemuan rutin setiap minggu atau dua minggu sekali bisa diisi dengan kegiatan pokok membagi tugas, kemudian ada kesempatan untuk pendalaman iman, membaca dan membahasa Al-Kitab, latihan berbicara di depan umum dalam forum “publik speaking” dengan empat acara misal membaca artikel dari majalah rohani (Majalah Maranatha, mengapa tidak ? Majalah Bahana, Bahan PA dll), membuat pengantar untuk suatu rapat atau latihan memimpin rapat, membaca puisi, atau latihan memberi sambutan singkat untuk acara ulang tahun teman. Hal yang sama berlaku untuk kegiatan Remaja Kristen dalam rangka memperkaya diri dalam latihan berbicara di depan umum.
Untuk meneguhkan kebersamaan dan membangun jaring kerja-sama di antara kegiatan remaja dan kaum muda/permata, Runggun bisa menjadi leader untuk pengarahan anggota yang baru berpindah (Remaja ke Permata, jangan dilupakan kesenjangan tersebut). Bahkan penerimaan Anak kecil bisa dimulai dengan acara pendampingan bagi Guru Sekolah Minggunya. Bekerjasama dengan Tim Pembinaan Iman Klasis (adakah ?), Kaum muda membentuk tim Outbound untuk mengemas acara Refleksi (missal : tiga hari retreat atau pembinaan khusus) bagi adik-adik Remajanya.
Bagaimana kegiatan ini dikemas dan dicarikan solusi untuk bentuk kerjasama dan jaring kerja sama di antara kaum Pemuda dan remaja? Pernahkah dipraktekkan hingga terbentuk jaring kerjasama yang indah antara Permata, Guru sekolah Minggu, remaja dan anak kecil serta dengan Runggun dan Klasis (Ngga usah muluk-muluklah, Moderamen terlalu sibuk). Model kerja sebagai tim kerja sungguh bisa terlaksana dengan baik, satu sama lain bisa berlatih untuk duduk bersama, mengadakan beberapa kali pertemuan serta mengancang anggaran keuangannya. Pada akhir proses ini, diadakan evaluasi dan pertanggungjawaban kegiatan kepada Klasis/Runggun.
Kegiatan anak - remaja yang fokus utamanya berada di sekitar acara gereja, ternyata tidak melulu berkegiatan di dalam gedung gereja atau sekolah minggu ! Anak-anak setelah Kebaktian Anak masih dapat menyanyikan satu - dua buah lagu rohani disertai dengan gaya dan gerakan dengan pendampingan para pedamping Permata (wow… mimpi). Suatu saat, anak-anak Remaja diajak berkegiatan keluar yaitu kunjungan ke lingkungan dengan acara mengenal usaha-usaha pengembangan gereja oleh Pengurus Runggun misalnya, (he… he… he...) serta menanam pohon untuk penghijauan, serta membuat lobang resapan air di lingkungannya. Melalui kegiatan ini, kerelaan berbagi diantara keluarga yang mempunyai mobil, mereka yang rela membawa makanan lebih untuk kepentingan konsumsi (atau model lainnya, dibagi-bagikan diantara ibu-ibu lingkungan, siapa akan membawa nasi, sayur atau satu buah lauk dan buah? Auh… jauh !!!). Dengan cara itu, ada kerelaan dari beberapa keluarga serta pengurus Mamre/Moria untuk berbagi kasih secara nyata. Anakpun diajak untuk rela berbagi dengan bekal yang telah dibawa dari rumah masing-masing. Belajar mencintai lingkungan dan memelihara alam telah ditanamkan kepada anak-remaja sejak dini. Melalui kegiatan itu pula, keakraban dan persaudaraan terjalin dengan baik diantara keluarga-keluarga serta orangtua.
Beberapa Pengurus Remaja dan Permata yang sudah dewasa (usia kelas 2 SMP hingga SMA) umumnya juga sudah aktif dalam kegiatan pelajar Kristen. Melalui kegiatan masing-masing, mereka bisa menjembatani kebutuhan anak-anak Remaja (yang hendak masuk Permata) dalam mengancang kerjasama dengan pengurus Permata dan Remaja Kristen. Bahkan acara-acara keakraban yang diciptakan oleh pengurus yang sudah lebih besar ini, bisa mengadopsi beberapa permainan yang didapat dari pertemuan Pelajar Kristen. Menggagas pertemuan untuk Remaja yang gaul dan tanggap dengan keadaan, tidak hanya berhenti pada kegiatan Kebaktian atau koor untuk Kebaktian umum (penulis juga meragukan keaktifan koor ini), namun bisa juga dengan mengasah kedewasaan hidup, misalnya membahas pergaulan remaja atau kesehatan reproduksi. Bahkan isue pemanasan global bisa menjadi bahan aktual untuk mengasah kepekaan anak-remaja dengan alam semesta ini.
Lain lagi yang akhir-akhir ini dibuat oleh anak-anak Kecil dan remaja. Di GKI Malang (yang nota bene identik dengan GBKP dan GMIM) mengajak umat menghijaukan halaman serta lapangan parkir Gereja dengan penanaman aneka pohon. Pendeta Agoeng dari Youth Center bersama Komisi Pemuda dan Remaja GKI pada tiap hari Kasih Sayang menggelar Valentine Earth di Alun-alun kota dengan menanam pelbagai pohon untuk penghijauan. Saya menawarkan kegiatan untuk anak-anak kecil yang hoby sepak bola plastik di halaman Gereja, sebelum bermain, membuat lobang resapan biopori kemudian mengisinya dengan sampah organik dari dedaunan atau sampah sisa makanan. Lumayan juga, dari minat anak-anak, Remaja, Permata, Guru Sekolah Minggu dan Permata untuk permainan bola, selama dua minggu sekali dapat terbuat empat hingga enam lubang resapan biopori. Karena syarat untuk main sepakbola di halaman Gereja, harus membuat lobang resapan biopori. Dengan membangun kepekaan, diajak bicara, diberi informasi mengenai kerusakan alam serta pemanasan global, diharapkan ada usaha nyata untuk menjaga keutuhan ciptaan sebagai habitus sehari-hari.
Kembali pada cerita awal di atas, salah satu langkah pastoral yang ditempuh untuk meneguhkan iman “si-pemudi” (khususnya) adalah mengajak bicara secara intensif. Pendeta memberi pengarahan, memintanya berdialog dan pendalaman pemahaman mengenai kehidupan beriman itu sendiri. Memberikan pendampingan, serta diberitahukan kepada orangtua. Ketika dia sudah siap, teman-teman pengurus Permata yang mengerti permasalahannya juga memberi dukungan positif, maka pada acara Ngawan/Sidi, bersamaan dengan Baptisan, dia diberi kesempatan untuk disidi (tidak ada kata terlambat!!!). Saat yang dia tunggu dengan kerinduan besar, sekaligus menjadi saat untuk mengembangkan keKristenan dengan lebih bangga. Ini sebentuk tanggungjawab pastoral untuk pendampingan secara pribadi atas kasus yang khusus ini.
Dari pelbagai kegiatan seputar Gereja, kita bisa membawa kepada pelbagai kesadaran dan kemungkinan tindakan yang menjawab kebutuhan nyata di sekitar Gereja dan Masyarakat. Siapa mau ambil bagian lebih nyata dalam pelbagai kegiatan Gereja, juga rela ambil bagian untuk berbagi kasih dengan sesama terlebih mereka yang membutuhkan uluran kasih? Sejak dini anak, remaja, pelajar dan kaum muda bisa ambil bagian secara penuh dalam keprihatian dan kepdulian Gereja. Para pendamping dan pengurus perlu pandai-pandai merumuskan serta mengancangkan kegiatan yang menjawab kebutuhan nyata. Membuat atau mengancang kegiatan yang sejak awal juga melibatkan anak-remaja serta pelajar dan kaum muda sadar mengenai keadaan dirinya lalu mencoba menjawab permasalahan kebutuhan itu dengan kegiatan-kegiatan yang diancangkan secara baik serta dievaluasi. Itulah gaya bertindak kita yang perlu kita upayakan. Kesadaran untuk bekerjasama dengan orangtua dan keluarga harus diutamakan, karena pendamping utama bagi anak-remaja dan kaum muda adalah keluarga masing-masing. Terus menerus perlu diusahakan dan disadari bahwa orangtua dan keluarga menjadi aktor utama dan pendorong bagi keterlibatan anak dan remaja dalam pengembangan umat di lingkungan, juga untuk aneka keterlibatan anak-remaja sendiri. Maka sekecil apapun yang diupayakan oleh orangtua, pengurus dan jemaat lingkungan serta pengurus Gereja Runggun dan klasis, akan menjadi kesempatan dan sarana yang bagus untuk pengembangan iman anak-remaja. Dari altar, kita bawa semangat hidup harian menuju Gereja dan Masyarakat masa depan.

Ito Belihar Purba mengatakan...

Banyak dari keprihatinan terhadap remaja/ pemuda tidak mengena ketika itu hanya menjadi sebuah wacana saja. Follow up adalah sebuah tindakan nyata. Sedikit saja berbuat tapi banyak faedahnya daripada tidak sama sekali. Apa yang telah dituliskan Pdt Minda adalah sebuah pemikiran yang bernilai mutiara. Namun yang menjadi masalah yang saya lihat adalah variasi yang tidak saling berkorelasi dengan baik. Ada kelompok yang sama sekali tidak tahu menahu dengan tanggung jawab, pelayanan, keterlibatan di dalam gereja. Lalu kemudian ada yang over sebab telah mendapatkan banyak pengalaman (menurut dirinya sendiri) saat ia sudah mulai rajin mampir "jajan rohani" dan sebagian lagi merupakan anggota yang aktif di dalam persekutuan Kristen Mahasiswa. Hasilnya malah menjadi "sombong" dan merasa diri lebih baik. Lalu konsep "what they are" dirasa perlu dengan penjelasan praktis... Tks Pdt Minda...